Rabu, 28 September 2011

Chapter 59 : Que Sera Sera

26 September 2011
The Future.
“He is my future…” Jawab Chang sambil mengelus lembut kepala Brody yang tertidur di pangkuannya.
Saya masih gak ngerti, Peter Chang yang begitu obsesif dan agresif soal karirnya tiga tahun lalu, sekarang sudah berubah drastis. “You gave up your world for him?” tanya saya lagi.
“All my life, I’ve been chasing my future, luckily I nailed it. I realized that I’m getting older, not younger. I’m forty-five for god’s sake. Then came the biggest question I ever had in my life : what’s next?”
“Him?" tunjuk saya. "How?” tanya saya, masih belum menemukan jawaban yang saya mau.
Chang tergelak sambil menyesap espresso-nya. “Life is a surprise. It always is. Brody datang disaat saya sibuk bertanya pada diri sendiri. Di saat kami saling membutuhkan. Di saat dia dibuang dari dunianya bersamaan dengan saya yang ingin membuang dunia sebelumnya.”
Chang membelainya lagi. “Seumur hidup saya berjuang demi kehidupan yang lebih baik. Sekarang waktunya untuk memberinya kehidupan yang lebih baik. Menjadi rangkapan dua sosok yang tak pernah dikenalnya. Mendedikasikan dan meletakkan semua masa depan saya ke hidupnya.”
Saya jadi ikut membelai Brody. “Would u like to have one someday?” tanyanya. Dan pertanyaan itu pun Menghantui saya hingga beberapa menit kemudian.

Dear Jade.
Dear my future Jade. My future daughter. Do I really want you, someday?
To be honest, you’re not on top of my list, not on my wish list, and not even in my future picture.

But if I had you…
I’d give up my whole world for you, completely. For you, only you.
I’ll let you sit and watch you pray in silence, pray to the Mighty God, letting you choose your own religion.
I’ll sit, waiting for you in family room then hugging you at the 101st day after for the 100th days you becoming a little brat teenager. Then all I can say is, “It’s all forgiven. You’re still my little girl.”
I’ll rub your fully loaded belly and let you sleep on my lap.
I’ll smile. Widely. Every time I see you, I'll smile, even if I'd had a bad day.
I’ll give you everything you need, but not everything you want. Cuz Jade, everything you want is not everything you need.
My happiest moment would be your piano recital day (or maybe your wedding day). Or maybe when you kiss my forehead without any reason.
My saddest moment will be the “I hate you, Daddy! I hate you!” line. And when you don’t talk to me without telling me any reason.
And whether you are gay or not, it would not make any difference to me. My love for you will exactly be the same.
Love. I might not be able to find my true love, ever. But I’ll give you my true love, the unconditional love. And slowly I’ll teach and show you what love is.
My love for you will be like a flood.
And Jade… I'd had never won any trophy nor medals, but you are more than a trophy to me.

Let it Be.
Saya masih bengong ketika telunjuk saya ditangkap jemari Brody kecil. Mungkin membiarkannya memainkannya adalah pilihan bijak. “Kamu mau coba gendong dia, Chris?”
“Ermmm…. Boleh. Why not.” Gagap saya sambil memangku anak umur tiga tahun itu.
“Uncle uncle uncle.” Senyumnya lebar sambil mencoba mencium jemari saya. Sebuah salam kenal darinya barangkali.
“Chang, suatu hari kamu bakal bilang ke dia tentang adopsi ini? tentang orangtuanya yang junkie? Tentang… Semuanya?”
Chang menaikkan bahunya. “Que sera sera, Chris. Whatever will be, will be.”
Lalu seakan Brody menangkap lirik itu. Bergumam kecil terpatah sambil berusaha menyanyikan sebait liriknya untuk kami.
“When I was just a little boy
I asked my Father ‘What will I be?’
Will I be handsome? Will I be rich?
Here’s what he said to me…
Que sera, sera.
Whatever will be, will be.
The future not ours to see
Que sera, sera…
Whatever will be, will be.”
--
Saya berkaca-kaca. I remember that song, it was my childhood anthem!
“Thanks Little handsome Brody. Uncle Chris loves you.” Kecup saya ke dahinya.
Ah and Jade, I’ll teach you that song. Totally


by.C

Kamis, 04 Agustus 2011

Chapter 58 : Ex-tasy.

3 August 2011

The sweetest drug.

“What if your ex-boyfriend is now back to the market?” tanya Cyrus.

“I bet he’s more expensive now.” Wait. Did Cyrus just asked bout my ex?

“Exactly! NO! it’s my ex. My very first ex.”

“Ahh.. Kobe…” Ingatan saya langsung merujuk pada sosok tinggi besar muka ala jepang yang membuang Cyrus demi seonggok daging dungu bernama ‘another dumbo’.

“It’s been three years already! Bukannya udah finish?” tanya saya.

“Not my revenge…”

Dia sibuk dengan browsernya, “He got a new soon-to-be-mistress!”

Saya menyesap mocha saya sambil senderan males. “Can you blame him?”

“Aww.. He’s hot. Hotter than you, baby Cy.” Komen saya.

“Right. The whole point of facebook is so you can see if you’re hotter than your ex’s new lover.” Sahut Keith yang tiba-tiba nyelonong.

“Keith! You should be on my side!”

“Can you blame me?” Lari! Siap-siap disiram hot tea.

--

Right before I sleep, I can’t stop wonder : Has Cyrus got over his ex? Has Cyrus buried all the memory with his first ex? Has he moved on?

Two things I hate the most : 1.) The new lover of an ex. 2.) The ex of a new lover.

Buat saya, mantan pertama berasa ecstasy (pada enam bulan pertama sebelum akhirnya move on betulan). He was my first kiss, my first cuddle, my first on everything. How could I get rid of that feeling within weeks/months?

It’s like the first time you on drugs : ADDICTIVE. Walau akhirnya merusak. I thought I was having a disease, and he was my cure. I thought he saved me, turned out he killed me instead.

I don’t regret my past. I just regret the time I wasted with the wrong person. I invested my heart to the wrong person. I sold myself in the wrong market. Can’t blame anybody. Can I ?

Paling enggak Keith enggak kaya saya. Dia belajar banyak dari setiap break-up-experience. His last ex, Mr.Busy-Billy contohnya. Selesai ya selesai. Walau selesainya enggak enak.

“Hon, like my Mom said : an Ex is called an Ex cuz it is an Example of what you shouldn’t have again in the future. Dalam hal ini, gw benci orang sibuk.” Hmm. He got a point.

“Ga mau ngalah dikit gitu ya?” tanya saya di telepon.

“No way! I am me. I’m not willing to change for anybody or anyone. Take me as I am or watch me as I go.” Damn. I wish I was that strong.


Now who needs a rehab?

Cyrus datang dengan muka sumringah. “I think the hell just froze over…” Keith sampai heran.

“Elu-elu pada tau ga gua ngapain kemaren?” Kami angkat bahu.

“Gua samperin tuh si calon nyonya Kobe di gym. Gua ajak kenalan. Gua salaman sambil bilang : oh by the way, you are dating my ex. Well done, I ate half a doughnut earlier, you want the leftover too?”

--

“Oh is Kobe your ex?”

“No Donovan, that creature is the biggest mistake of my life.”

“Don’t worry, saya cuma ngedate kok sama dia semingguan ini. Kita belum resmi.”

“Well, then keep waiting, Donny. Itu jeleknya dia, suka ngegantungin orang. Old habit dies hard.”

Donovan memegang pundaknya. “Sebenernya bukan karena itu sih kita enggak jadian…”

Cyrus menaruh dumbbell nya. “Tell me all...”

“Don’t laugh but… We’re both Top.”

Bahahhahaa! Epic! “Phftt… Oh! Okay!” mati-matian Cyrus menahan tawanya.

“Kamu taulah… Pas di ranjang ga ada yang mau ngalah. Sampe akirnya kita gontok-gontokan. Bugil berujung masuk angin doang. Dan entah kenapa dia masih ngejar juga.”

“Well that’s him… A champion kinda men. Dan elu salah satu medali yang belum dia dapetin.”

Cyrus meliriknya lagi. “You know what… Kita bisa buat dia ilfil seketika sama kamu…”

Donovan sepertinya mengerti arti mata itu. “I’m interested… Go on…”

“Why don’t we make love? Atau paling enggak ngobatin masuk angin kamu kemarin. I’m pure bottom and I think you’re uber hot.”

Donovan tersenyum panjang. “Only if u agree to send him our dirty pic on bed. Then I am yours tonight and the another nights, you little hot stuff.”

“Ahhh… You read my mind. How I love my life.” Mereka bersalaman lagi.

“And by the way, Cyrus… Mine is better than your ex’s, and fresher than your next’s.”

“Uwhh… I can see that…” Cyrus melirik bawahan Donovan.

--

“Terus gua email foto itu ke dia dengan tagline : You’re exactly where you belong… IN MY PAST!”

“Nasty slut! Bahahaha!” Keith dan saya ngakak keras.

“That explains why u look happy tonight.”

“Right! Now who needs a rehab If you could trade drugs over a new candy?!”

“Kobe pasti bakal benci banget sama elu setelah ini.”

“Can you blame me, Chris?” wink.

By.CL

Minggu, 03 Juli 2011

Chapter 57 : Dynasty

1st July 2011

Suhi – 8 tahun

Suhi terbangun dengan hati kelu dan tubuh biru. Batinnya remuk tak karuan pagi itu. Bingkai foto retak masih dalam pelukannya. Pertanda apa yang terjadi semalam bukanlah mimpi. Murni elegi.

Sudah jam enam. Dia harus mandi, untuk kemudian berangkat sekolah.

Ibunya tahu-tahu sudah dibelakangnya. Mengoleskan pomade pada rambutnya sambil menyisirnya lembut dan rapi. “Maafkan Papamu ya, Suhi…” isaknya sendu.

Suhi kecil mati-matian menyembunyikan butiran pertama disudut matanya sambil mengangguk. Mencoba tersenyum kecil. Dalam pantulan kaca itu, dua sosok berbeda generasi ini menyimpan lukanya tersendiri.

“A-auw..” pekiknya pelan sambil melindungi lengannya.

“Hari ini pakai sweater dulu ya… Biar biru-biru di badan Suhi nggak kelihatan.” Kecup Mamanya, sambil kemudian merelakan anaknya berlalu diantar sopir ke sekolahnya.

“Dan maafkan Mama karena semalam hanya bisa terpaku diam melihatmu dipukuli Papamu…” lirihnya dalam hati.

 

Suhi – 13 tahun

“Mama…” raihnya dalam rintih. Terbujur di lantai dengan raut pilu. Ketakutan sekaligus asa masih tersirat dari mata lebamnya.

Rossie berulang kali menampar tubuh suaminya yang mencegahnya menolong buah hatinya disana. “Biar! Biarkan saja dia mati sekalian! Satu-satunya penerus keluarga, tapi bisanya cuma bikin malu marga kita saja! Mati saja dia!”

“Hanya karena dia mencoba memakai sepatuku? Lalu kau pukuli dia seperti anjing tiap malam?!” Rossie menampar suaminya lagi, walau suaminya tak pernah sekalipun membalas tamparan itu.

“Bukan masalah sepatu! Tapi kau tau dia mahluk macam apa?! Kau tahu itu? Dari kecil kelakuannya sudah seperti anjing betina! Mati saja kau Suhi!”

“Lupakan rasa kecewa besarmu dan harapan besarmu padanya! Biarkan dia hidup seperti yang dia mau! Kau tak berhak secuilpun atas hidupnya! Tak secuil pun!” lirihnya dalam.

“Dia puteraku! Anak lelakiku!” tambah Rossie sambil bersungut-sungut.

“Bagus kau sadar! Dan mulai sekarang, perlakukanlah dia sebagaimana kau sebut dia barusan : ANAK LELAKI KELUARGA SOE!” pekik suaminya lantang sambil berlalu ke kamar.

Malam itu hingga subuh, Rossie memeluk tubuh Suhi dalam ranjang. Menyanyikan senandung malam sambil tak henti membisikkan kalimat-kalimat insepsi.

“Kau generasi berikutnya… Kaulah harapan kami. Kaulah pewaris harta dan marga kami. Kaulah alasan kami tak dimaki leluhur kelak. Jadilah seperti yang kami mau… walau berat.” Ulangnya puluhan kali dalam bisikan kecil hingga suhi tertidur.

 

Suhi – 18 tahun.

“Mom… Do you love me?” tanyanya pada anonim. Sambil memandang Rossie yang sedang merangkai bunga disana.

Suhi sudah hapal betul jawabannya. “Suhi... Telling how much I love you is like trying to explain colors to a blind person, completely impossible.”

Atau terkadang Rossie menjawabnya dengan senyum panjang. “Trying to explain how much I love you is like trying to explain the taste of water.”

“Suhi. Kau sudah siap nanti malam?” sosok itu bertanya dingin. Tak sehangat bertahun lalu.

Suhi hanya mengangguk. “Ya Mom…”

“Sudah lupakan saja keinginanmu kuliah seni. Papamu betul, kau harus masuk jurusan bisnis. Masa depanmu sudah kami rancang. Tinggal kau jalankan.” Suhi mendengarnya tanpa jeda. Seperti kaset yang diulang berulang kali.

“Nanti malam pakailah kemeja terbaikmu. Semua keluarga besar Mama undang buat pesta farewell-mu. Lusa kan kau sudah ke London. Sudah kau siapkan?”

Suhi termenung –

Mama. Aku rindu padamu. Rindu membawakan belanjaanmu sepulang dari supermarket. Rindu melihatmu menyisir rambut panjangmu. Rindu ikut tertawa menang bersamamu ketika berhasil membuat variasi cake baru. Rindu wangimu. Itulah yang aku takutkan, kehilangan ingatanku akan aromamu. Bukan bunga, cukup aroma hangat dan membumi-mu yang kental.

Mama. Andai aku bisa mengingat jelas rupa membran yang tersobek akibat melahirkanku. Andai aku bisa mengingat jumlah bantahan yang menyayat hatimu. Andai aku bisa menjelaskan setiap kerutan pada wajahmu, disitulah memori tersimpan, cerita sedih dan bahagia karena aku. Aku takut tak bisa mengingat senyum di wajahmu. Senyum indah, tertutup rapat, namun menghanyutkan. Bukan senyuman lebar dengan deretan gigi rapi terlihat. Cukup sesimpul senyum yang terasa melegakan dan membuatku tersenyum kembali kepadamu.

Aku takut tak bisa menjadi seperti yang kau inginkan. Menghancurkan setiap mimpimu satu persatu.

Aku bukanlah sosok yang bisa memberikanmu menantu dan cucu-cucu kecil berisik yang membuatmu lebih bahagia. Bukan pula sosok fantastis yang sukses dalam berbisnis seperti Papa.

Aku bukan pria yang bisa menjagamu dengan gagah bisa melapisimu dengan benteng sempurna. Namun yakinlah, akulah pria yang mencintaimu. Anak kepada Ibunya, cinta tanpa persyaratan apapun.

Aku memimpikan masa kecilku tiap malam. Kau peluk dan kau tenangkan. Maka dari itu aku bertahan. Menunggu sang waktu menaburkan kesempatan pada kekosongan kita, hingga menghangat kembali. –

“Iya Mom…” angguknya sambil melihat Rossie berlalu.

 

Better Generation.

“What is this seminar about, once again, Mom?” tanya Keith pada Mamanya, Lilith.

“Fight for your gay son!” kepalnya semangat.

“Ah... Ring a ding-ding…” Keith mulai bosan menunggu acara tak mulai-mulai.

“Son… No matter what happen and what you do in the future, I will still love you… okay?”

“Mom… U are the kid in the family. This seminar should be titled : twisted dynasty. Atau kalau mau lebih epic, dikasih judul aja skalian : Fight for your childish-single Mom.”

“Damn u, Keith. Damn u.” Lilith menyembunyikan tawa kecil itu, tak mau membiarkan anaknya menang perang sarkas kali ini.

“Pssst. Udah mulai tuh. Keep quiet!” sahut Keith.

--

“Suhi… Anak saya, meninggal empat tahun lalu. Dia bunuh diri, memotong kedua pergelangan tangannya didepan kami satu keluarga besar pada pesta farewell itu. Nyawanya tak tertolong.” Ucap seorang wanita didepan mimbar.

“Setahun setelahnya saya merenung, bersembunyi dalam cangkang saya sendiri. Berpisah dengan suami saya walau tak bercerai. Membiarkan leluhur memaki keteledoran saya. Membiarkan masyarakat mengira-ngira apa yang terjadi sebenarnya… Pikiran saya hanya tertumbuk pada rasa bersalah yang amat besar.”

Lilith dan Keith tercenung. Begitu pula penonton lainnya.

“Satu hal yang saya sadari… Saya tak cukup berjuang untuknya seumur hidupnya. Saya menjejalinya dengan segala kenormalan yang ada di khalayak umum. Sedangkan saya sendiri tak mengerti, apa arti normal sesungguhnya. Saya… Saya membentuknya menjadi monster yang dia sendiri tak mengenalinya.”

“Kita… Dalam hidup ini, sudah banyak melakukan kesalahan. Jangan sampai menghakimi mereka menjadikan itu kesalahan paling fatal bagi kita. Berjuanglah untuk mereka, karena itulah tugas kita. Bukan memperjuangkan ego kita.”

“Saya, berdiri disini, berjanji sampai ujung hidup saya akan berjuang menyuarakan suara Suhi yang tak pernah terucap hingga akhir hayatnya. Dimana Suhi tak pernah melawan sedikitpun. Dia mengalah, tapi bukan kalah. Karena dia mencintai keluarganya. Sekarang giliran saya mencintainya penuh, tanpa ditutupi. Karena dia selalu berucap : When the world leaves, family stands.”

Lilith dan Rossie. Dua Ibu itu bercucuran air mata. “Keith... I never thought this story gonna bring your tears. Haha!”

“Moooom! Stop staring at me!” tutupnya.

Rossie melihat adegan itu sambil tersenyum. Mengangguk pada Lilith dan mengirimnya pesan gerakan bibir dari kejauhan. “Take good care of him.”

“That’s my job ;-)” sungutnya riang sambil mengacungkan jempol.

 

By.C

Minggu, 29 Mei 2011

Chapter 56 : The Leftover


The goddamn column.

“What’s your size?” saya ndomblong. Ndomblong kenapa yang barusan ga bisa masuk. Enggak muat. Too small for my hole. Too big to fit on me.

“So what’s your size?”

“Ermm… Medium aja deh Mbak. Yang Small ga muat. Tetep yang merah ya warnanya.”

“Bentar ya Koh, saya ambilin ukuran M nya. Jeans nya muatkah?”

“Sekalian 30 deh. Yang 28 kekecilan. Hehe. Thanks!”

Saya langsung tutup pintu fitting room.

--

“Ini tanggal berapa, Cy?”

“Lima belas. Kenapa?”

“Crap! I only have two goddamn weeks to loose five kilos.”

 “Yea, I can see that muffin top. Antara mau mbludag dari celana, atau minta dikenyot vacuum cleaner. Ini apaaa?!” Cyrus dengan lancangnya menggenggam pinggang saya.

“Shooh! I eat, so I wont fall in love. You shall clap for me!”

“Oh, sekarang prinsip elu ‘goodbye love, now I fall in chocolate’? Huh?”

“Ok. Judge me. Judge for eating my emotion. Judge me for not trying watch my own figure. I just don’t wanna be fatty on my birthday!”

Cyrus menggapai kaus ketat berukuran S itu. “Lolita, the most useful and effective pill to lose weight is… well… SEXCERCISE ! It burns, it helps. Make some sweat, baby!”

Mata saya memicing. “Magnificent. This desperate and single boy gotta fuck a treadmill machine tomorrow. Thanks for your hilarious advice.”

“Don’t I look sexy on this V-neck SMALL size shirt?” tanyanya menekan.

“I’ll kill u now.”

--

Okay. May 29 would be my birthday. I am so freaking out about my age. My twenty-frickin-four age. I’m aging!

I would be at “LeftOver” column.

Di kolom itu, percaya enggak percaya, berisi pria berumur 24-29 yang ‘lagi-enggak laku-lakunya’. Yang 24 kalah sama 23 kebawah. Yang 29 lagi harap-harap cemas nungguin jadi hot-hunk at his thirties.

So where do I go after May 29th? Leftover column. Fuck. Fuck my life.

“How old are you?”

“Twenty six.”

“I see I see.”

And the chat is over. Saya udah bisa bayangin hal-hal yang bakal menimpa saya.

Mau dipanggil sinyo juga enggak pantes. Mau dipanggil koko juga ga pantes. Mau dipanggil engkoh juga saya bukan juragan sembako.

Satu masalah belom selesai, sekarang malah nambah gendut! “Universe, did you just send me some messages that I would ended up miserably on my LEFTOVER ERA?”

“No. It can’t be happen to me. Damn you chocolate bar. Damn you to hell! You and your friends calories are little monsters who made my clothes smaller.” That night, I toss my last choco-bar in my trash.

 

The Bird Shit and The Bee.

“Do I have bird-shit on my face?” tanya Kevin.

“Huh? No. Why?”

“Terus kenapa semua orang ngehindarin guaa?!”

Saya ngakak. “Nooo Kev, you’re just cute. As usual.”

“No dearest. I might be cute but I’m twenty-eight. Kemarin gua chat sama orang di grindr, ternyata dia cuma nanya begini : kamu pake foto lima tahun lalu ya? Enggak percaya ah kalo kamu umur 28.”

“That’s… such a relieved!”

“That’s humiliation!”

“Kan elu dipuji awet muda..! Gimana sih?”

“Kaga! Gua marah! Marah besar! Gua maki-maki itu orang! I built this slimy-20years old-body for years. I’m using anti aging cream every night. But the point is, gua engga pernah nutupin umur gua. Gua bangga kalo gua tua! Dan dia enggak percaya!”

Saya garuk-garuk kepala. Absurd bener partner gym saya yang satu ini. Mati-matian buat kelihatan awet muda, tapi suka kalo dibilang tua. It’s a big ‘HUH?’

“Okay… So?” saya oper burbles ke dia.

“Okay so…! Gua udah sejauh ini berusaha, tapi kenapa gua masih single?! Udah tiga tahun gua single! I’m oldie, but im goodie !!”

Saya berkaca didepan kaca besar di gym. “Well honey, say hi to ‘Leftover Ville’. Population? Us.”

--

“Nyo, lu habisin tuh sisa makanan tadi sore. Sayang kalo dibuang.”

“No way. Noo. Waay. I’m the leftover already, I don’t want to eat some leftover too.”

“Huh?” Mama saya ndomblong.

Oh by the way, welcome back S & 28 size =)

 

 

By.C